Entah kenapa hari ini gue pengen nulis sesuatu di blog. Gak tau karena stress mikirin UTS atau stress karena status. Ya, status. Jomblo. Apa perlu gue perjelas? Kadang punya -apa yang orang biasa bilang- pacar, ada enaknya dan ada kurang enaknya. Kenapa gue bilang kurang enak? Kenapa gak "gak enak"? Karena orang pacaran itu emang enak. Semua juga tau. Jadi ngapain gue tulis.
Awkward. Emang. Tapi pendapat gue tentang pacaran yg enak itu ternyata cuma ada di love story drama korea. Pacaran itu gak enak. Bayangan tentang saling mencintai; saling menghargai; saling mempercayai satu sama lain; saling melindungi; saling silang dan banyak lagi, itu cuma khayalan bocah ababil belaka. Semua ada waktunya. Gak semua orang akan terus menerus merasakan hal yang sama setiap hari. Pacaran gak harus selalu ketemu, pacaran gak harus selalu makan bareng, pacaran gak harus selalu pacaran. Dalam suatu hubungan butuh yang namanya jeda. Hidup masing-masing untuk sementara. Kecuali kalo orang itu udah nikah. Itu beda urusannya, jadi gak akan gue bahas. Lagipula gue gak punya pengalaman nikah jadi gue gak tau. Gue juga sebenernya gak punya begitu banyak pengalaman tentang pacaran. Terus buat apa gue posting tentang pacaran? Gue juga bingung. Sekian.
Sabtu, 20 April 2013
Minggu, 25 Maret 2012
Antara aku, kamu dan Ibu Kost
Ibu kost emang lebih kejam daripada ibu tiri. Selain lebih kejam, juga yang pasti lebih perhitungan. Seperti layaknya sipir, dia mengawasi setiap gerak gerik para narapidana (baca: penghuni kost). Bedanya sipir lebih protektif tapi kedua profesi ini ngga beda jauh. Ibu kost gue mulai menunjukkan taringnya baru-baru ini. Sebelumnya dia keliatan lebih baik dan lebih ramah. Tapi itu awalnya, karena setiap manusia pasti pada awalnya menunjukkan pribadi yang menyenangkan supaya disukai manusia lainnya. Soalnya kalau kesan pertama buruk, hanya akan dipandang sebelah mata oleh manusia lain. Oleh karena itu manusia pada awalnya menjadi bukan dirinya sendiri.
Kembali lagi ke persoalan ibu kost, sewaktu pertama pengen tinggal disini para calon penghuni kost diiming-imingi berbagai macam hal yang (tentunya) menarik. Selayaknya kampanye wakil rakyat, ibu kost begitu berapi-api menawarkan berbagai macam hal kepada para calon penghuni. Tapi memang sama halnya seperti kampanye wakil rakyat, hal-hal yang begitu 'wah' hanya isapan jempol belaka. Semua begitu abstrak, ngga ada hal konkrit seperti yang sudah dijanjikan. Janji memang manis, tapi apabila tidak terwujud dan hanya berakhir dengan janji tentu pahit rasanya. Itu pula yang dialami penghuni kost sekarang ini, termasuk saya sendiri.
Ketidaknyamanan diawali dengan seringnya mati lampu, saking seringnya mati lampu sekarang penggunaan listrik lebih dibatasi. Setiap penghuni di data untuk penggunaan listriknya agar meminimalisir listrik mati. Kata ibu kost, itu semua demi kebaikan bersama tapi tidak untuk kebaikan dompet anak kost. Masalah listrik (belum sepenuhnya) selesai. Walaupun sudah didata segala macam tetep mati lampu gak lepas dari kostan.
Masalah terus berlanjut bukan cuma soal listrik tapi kali ini soal kebisingan. Karena anak kost sini rata-rata biang kerok semua, jadi bisa dibayangkan kalau sudah disatu ruangan. Tidak berbeda jauh dengan kaum hawa yang suka gosip. Satu kata 'Heboh'. Secara langsung kehebohan anak kost-pun langsung ditanggapi dengan keras oleh pribumi. Mayoritas pribumi orang-orang tua yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. Seperti kata Newton "Apabila ada aksi maka akan ada reaksi". Reaksi yang keras pun terjadi, beliau masuk ke kostan untuk memberi peringatan kepada anak kost supaya menjaga sikap. Sebulan berlalu, dua bulan berlalu, namanya anak muda satu kesalahan tidaklah cukup. Seperti gak ada kapoknya, secara (tidak) sengaja kami mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Kali ini beliau lebih keras memperingati anak kostan tapi bukan dengan cara kekerasan. Hanya menceramahi kami dari kejauhan. Anak kostan ada diatas sedangkan beliau dibawah. Anak kostan diam seribu bahasa sedangkan beliau berbicara seribu kata. Anak kostan diam bukan karena mengabaikan tapi diam karena ngantuk dan lapar. Tapi lambat laun anak kostan jadi mengerti kesalahan mereka dan mulai memperbaiki sikap masing-masing.
Masalah tidak berhenti disitu saja, masalah akan datang lagi dan lagi karena manusia tidak bisa lepas dari masalahnya masing-masing. Karena masalah sejatinya adalah sebuah cobaan agar manusia bisa belajar dari masalah itu sendiri. Supaya manusia menjadi lebih manusia secara utuh dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Bertahan dan mampu menyelesaikan masalah adalah solusi pasti. Hidup akan hampa apabila tidak ada masalah, seperti sayur tanpa garam. Sekian
Kembali lagi ke persoalan ibu kost, sewaktu pertama pengen tinggal disini para calon penghuni kost diiming-imingi berbagai macam hal yang (tentunya) menarik. Selayaknya kampanye wakil rakyat, ibu kost begitu berapi-api menawarkan berbagai macam hal kepada para calon penghuni. Tapi memang sama halnya seperti kampanye wakil rakyat, hal-hal yang begitu 'wah' hanya isapan jempol belaka. Semua begitu abstrak, ngga ada hal konkrit seperti yang sudah dijanjikan. Janji memang manis, tapi apabila tidak terwujud dan hanya berakhir dengan janji tentu pahit rasanya. Itu pula yang dialami penghuni kost sekarang ini, termasuk saya sendiri.
Ketidaknyamanan diawali dengan seringnya mati lampu, saking seringnya mati lampu sekarang penggunaan listrik lebih dibatasi. Setiap penghuni di data untuk penggunaan listriknya agar meminimalisir listrik mati. Kata ibu kost, itu semua demi kebaikan bersama tapi tidak untuk kebaikan dompet anak kost. Masalah listrik (belum sepenuhnya) selesai. Walaupun sudah didata segala macam tetep mati lampu gak lepas dari kostan.
Masalah terus berlanjut bukan cuma soal listrik tapi kali ini soal kebisingan. Karena anak kost sini rata-rata biang kerok semua, jadi bisa dibayangkan kalau sudah disatu ruangan. Tidak berbeda jauh dengan kaum hawa yang suka gosip. Satu kata 'Heboh'. Secara langsung kehebohan anak kost-pun langsung ditanggapi dengan keras oleh pribumi. Mayoritas pribumi orang-orang tua yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. Seperti kata Newton "Apabila ada aksi maka akan ada reaksi". Reaksi yang keras pun terjadi, beliau masuk ke kostan untuk memberi peringatan kepada anak kost supaya menjaga sikap. Sebulan berlalu, dua bulan berlalu, namanya anak muda satu kesalahan tidaklah cukup. Seperti gak ada kapoknya, secara (tidak) sengaja kami mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Kali ini beliau lebih keras memperingati anak kostan tapi bukan dengan cara kekerasan. Hanya menceramahi kami dari kejauhan. Anak kostan ada diatas sedangkan beliau dibawah. Anak kostan diam seribu bahasa sedangkan beliau berbicara seribu kata. Anak kostan diam bukan karena mengabaikan tapi diam karena ngantuk dan lapar. Tapi lambat laun anak kostan jadi mengerti kesalahan mereka dan mulai memperbaiki sikap masing-masing.
Masalah tidak berhenti disitu saja, masalah akan datang lagi dan lagi karena manusia tidak bisa lepas dari masalahnya masing-masing. Karena masalah sejatinya adalah sebuah cobaan agar manusia bisa belajar dari masalah itu sendiri. Supaya manusia menjadi lebih manusia secara utuh dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Bertahan dan mampu menyelesaikan masalah adalah solusi pasti. Hidup akan hampa apabila tidak ada masalah, seperti sayur tanpa garam. Sekian
Minggu, 01 Januari 2012
Awal 2012
Kemarin tepat tanggal 1 Januari 2012 yang notabene awal tahun daripada tahun 2012 ternyata ngga seindah dan seberuntung apa yang gue kira. Hari itu gue putusin buat balik lagi ke Purwokerto tapi ternyata gue emang manusia paling sial yang pernah Tuhan ciptakan. Tanggal 31 Desember gue coba peruntungan nyari tiket buat balik.
Gue telfon semua angkutan umum yang ada. Mulai dari travel, kereta, sampe bis gue telfon. Dan hasilnya semua sama, dimulai dengan -kata manis dan terindah dalam sejarah manusia- MAAF. Semua tiket udah abis. Gue diem dan mulai mikir. Apa jadinya kalo gue gak balik tanggal 1, sementara UAS dimulai tanggal 2. Hati dan otak gue berkecamuk hebat. Gue galau. Tapi banyak jalan menuju Purwokerto (Purwokerto aja tiket pada habis apalagi Roma). Gue beraniin diri buat telfon lagi ke bagian penjualan online tiket kereta api. Gue tanya tiket apaan aja yang ada. Karena yang ngomong cewek, gue lama-lamain durasi telfonnya. Tapi emang dasarnya udah sial yang ada cuma kereta eksekutif dan harganya cukup expensive buat orang kayak gue. Dada gue sesek pas tanya harganya. Tapi demi UAS gue langsung deal sama tawaran doi. Booking tiket udah sekarang tinggal bayar.
Gue langsung ke Gambir buat bayar via atm sekalian tuker bukti pembayaran sama tiket kereta. Emang dasar udik, gue harus bolak-balik ke bagian pelayanan terus ke atm lagi. Batas waktu pembayaran sampe jam 4 dan gue masih belum juga kelar bayar tuh tiket. Kurang dari 15 menit akhirnya gue berhasil tuker bukti pembayaran sama tiket kereta. Tiket udah ditangan. Gue gak galau. Gue bahagia. Tapi gue sedih pas liat harganya. Akhirnya gue simpen dan gak bakal ngeliat lagi sampe besok.
Balik kerumah gue langsung maen futsal buat ngelupain harga itu tiket. Bukan tambah seneng malah tambah sakit. Kaki gue sakit dihajar makhluk tidak berperikemanusiaan. Gue harus istirahat dirumah biar sakitnya ngga tambah parah, tapi gue gak rela soalnya itu malem tahun baru. Banyak schedule di malem tahun baru. Gue paksain keluar rumah, tapi apa daya kaki gue gak sanggup lagi melangkah. Gue akhirnya milih tindakan bijaksana, tidur.
Besokannya kereta berangkat jam 8, alhasil pikiran gue pasti telat tapi Tuhan berkata lain, gue paksain bangun terus mandi walaupun gak rela harus mandi. Gue cabut ke Gambir sendokur. Gue masuk ke gerbong dan duduk manis. Ternyata nunggu 5 jam itu kalo sendiri berasa kayak 5 hari. Lamanya minta ampun. Dan akhirnya setelah perjuangan tidak kenal lelah gue sampe di kota satria. Gue masih di stasiun buat nungguin temen gue. Pas lagi duduk sekitar 15 menitan ada kereta lain yg dateng. Itu kereta ekonomi-ac. Ternyata kereta gue cuma lebih cepet 15 menit doang. Gue galau lagi. Sekian. Itu ceritaku, apa ceritamu?
Gue telfon semua angkutan umum yang ada. Mulai dari travel, kereta, sampe bis gue telfon. Dan hasilnya semua sama, dimulai dengan -kata manis dan terindah dalam sejarah manusia- MAAF. Semua tiket udah abis. Gue diem dan mulai mikir. Apa jadinya kalo gue gak balik tanggal 1, sementara UAS dimulai tanggal 2. Hati dan otak gue berkecamuk hebat. Gue galau. Tapi banyak jalan menuju Purwokerto (Purwokerto aja tiket pada habis apalagi Roma). Gue beraniin diri buat telfon lagi ke bagian penjualan online tiket kereta api. Gue tanya tiket apaan aja yang ada. Karena yang ngomong cewek, gue lama-lamain durasi telfonnya. Tapi emang dasarnya udah sial yang ada cuma kereta eksekutif dan harganya cukup expensive buat orang kayak gue. Dada gue sesek pas tanya harganya. Tapi demi UAS gue langsung deal sama tawaran doi. Booking tiket udah sekarang tinggal bayar.
Gue langsung ke Gambir buat bayar via atm sekalian tuker bukti pembayaran sama tiket kereta. Emang dasar udik, gue harus bolak-balik ke bagian pelayanan terus ke atm lagi. Batas waktu pembayaran sampe jam 4 dan gue masih belum juga kelar bayar tuh tiket. Kurang dari 15 menit akhirnya gue berhasil tuker bukti pembayaran sama tiket kereta. Tiket udah ditangan. Gue gak galau. Gue bahagia. Tapi gue sedih pas liat harganya. Akhirnya gue simpen dan gak bakal ngeliat lagi sampe besok.
Balik kerumah gue langsung maen futsal buat ngelupain harga itu tiket. Bukan tambah seneng malah tambah sakit. Kaki gue sakit dihajar makhluk tidak berperikemanusiaan. Gue harus istirahat dirumah biar sakitnya ngga tambah parah, tapi gue gak rela soalnya itu malem tahun baru. Banyak schedule di malem tahun baru. Gue paksain keluar rumah, tapi apa daya kaki gue gak sanggup lagi melangkah. Gue akhirnya milih tindakan bijaksana, tidur.
Besokannya kereta berangkat jam 8, alhasil pikiran gue pasti telat tapi Tuhan berkata lain, gue paksain bangun terus mandi walaupun gak rela harus mandi. Gue cabut ke Gambir sendokur. Gue masuk ke gerbong dan duduk manis. Ternyata nunggu 5 jam itu kalo sendiri berasa kayak 5 hari. Lamanya minta ampun. Dan akhirnya setelah perjuangan tidak kenal lelah gue sampe di kota satria. Gue masih di stasiun buat nungguin temen gue. Pas lagi duduk sekitar 15 menitan ada kereta lain yg dateng. Itu kereta ekonomi-ac. Ternyata kereta gue cuma lebih cepet 15 menit doang. Gue galau lagi. Sekian. Itu ceritaku, apa ceritamu?
Minggu, 23 Oktober 2011
Sesuatu yang Indah
Ketika ku membuka dan memejamkan mata
Aku hanya ingin melihatmu
Matamu yang berhiaskan bintang
Senyummu yang memancarkan kebahagiaan
Dan wajahmu yang memberikan arti kehidupan
Kamu datang seperti sebuah lagu
Kamu menghiasi hariku
Membuatku seperti hidup kembali
Dan siapa yang percaya bahwa,
Kamu adalah bagian dari mimpiku
Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti sebuah kayu yang tak sempat mengatakan cinta,
Kepada api
Karena sudah menjadi abu
Dan cinta berakhir bukan dengan huruf A
Tetapi cinta berakhir dengan huruf U
Yaitu KAMU
Aku hanya ingin melihatmu
Matamu yang berhiaskan bintang
Senyummu yang memancarkan kebahagiaan
Dan wajahmu yang memberikan arti kehidupan
Kamu datang seperti sebuah lagu
Kamu menghiasi hariku
Membuatku seperti hidup kembali
Dan siapa yang percaya bahwa,
Kamu adalah bagian dari mimpiku
Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti sebuah kayu yang tak sempat mengatakan cinta,
Kepada api
Karena sudah menjadi abu
Dan cinta berakhir bukan dengan huruf A
Tetapi cinta berakhir dengan huruf U
Yaitu KAMU
Senin, 10 Oktober 2011
Salam sejahtera
Selamat pagi,siang atau malam saudara. Hari ini gue kembali nulis di blog lagi setelah beberapa bulan menghilang dari peredaran. Gue selama ini disibukkan dengan ospek dan segala macam hal yang berhubungan dengan nguli. Gue kuliah di Universitas Jenderal Soedirman yaitu merupakan Universitas yang satu satunya berpangkat Jenderal. Ngambil jurusan Hukum. Kenapa gue ngambil hukum? karena di hukum ngga ada yang namanya matematika. Semua harus selalu dengan undang-undang dan pasal. Sebelumnya gue rasa gampang dan ngga terlalu sulit tapi makin kesini makin stress gue.
Suasana di sini beda banget sama di Jakarta tapi yang sama cuma panasnya yang terik waktu siang. Disini wisata kuliner nya bermacam macam tapi kebanyakan makanan disini rasanya manis. Masakan padang aja sambelnya rada manis. Gue belum ada sebulan disini jadi belum tau banyak tentang Purwokerto. Dulu waktu masih bocah sering banget ngelewatin Purwokerto sewaktu pengen ke Jogja. Sekarang gue menuntut ilmu di kota kelahiran nenek gue. Kebetulan disini banyak saudara dari nenek gue. Selama menuntut ilmu di kota orang gue ngekos di belakang kampus. Persis dibelakang kampus, padahal ngga ada 5 menit buat sampai di kampus tapi tetep aja telat masuk kelas.
Masing-masing orang punya latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. Rata-rata gue kenal semua penghuni kosan. Gue seneng kenal mereka tapi gatau mereka seneng ngga kenal sama gue. Gue jadi makin belajar menghargai dan saling mengerti walau dari daerah yang berbeda-beda. Tapi kalau udah ngomong dengan orang yang sama dari daerah yang sama. Mereka pasti ngomong dengan bahasa mereka sendiri. Dari Jawa ngomong pake bahasa jawa dan dari sunda ngomong pake bahasa sunda. Gue yang dari Jakarta yang cuma menguasai satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia cuma bisa diam seribu bahasa tapi kalau bahasa jawa gue masih bisa ngerti dikit dikit lah. Bahasa sunda yang pusing. Kalau mereka ketawa paling gue juga cuma bisa ketawa, padahal ngga tau ngetawain apaan.
So far mereka baik dan asik. Dikosan sini ada 3 orang yang satu jurusan sama gue tapi ada 2 orang yang sekelas sama gue. Dari 2 orang itu mereka baik, ada yang rajin absenin gue waktu gue ngga bisa dateng. Gimana ngga baik coba. Kebanyakan kosan disini dari Fakultas Peternakan. Ada 3 orang di angkatan 2011 dan ada beberapa juga dari senior. Setiap jumat malem atau malem sabtu sebagian penghuni kosan yang rumahnya deket udah pasti pulang. Ada yang dari Cilacap, Purbalingga, Wangon, Tegal, Purworejo, Banjar, Ciamis. Rata-rata yang deket pasti pulang. Gue yang dari Jakarta cuma bisa jaga kosan tok. Yang dari Medan juga cuma bisa anteng di kosan. Kebetulan yang dari Jakarta ada 2 orang. Malem sabtu ngga begitu sepi, yang parah pas malem minggu. Emang bener-bener udah kaya kuburan. Orang jauh doang yang masih bertahan. Ini hanya sepenggal pengalaman gue selama gue berada di sini. Untuk 4 tahun kedepan semoga semua yang masuk sama-sama akan berhasil sama-sama juga. Tuhan memberkati
Selamat pagi,siang atau malam saudara. Hari ini gue kembali nulis di blog lagi setelah beberapa bulan menghilang dari peredaran. Gue selama ini disibukkan dengan ospek dan segala macam hal yang berhubungan dengan nguli. Gue kuliah di Universitas Jenderal Soedirman yaitu merupakan Universitas yang satu satunya berpangkat Jenderal. Ngambil jurusan Hukum. Kenapa gue ngambil hukum? karena di hukum ngga ada yang namanya matematika. Semua harus selalu dengan undang-undang dan pasal. Sebelumnya gue rasa gampang dan ngga terlalu sulit tapi makin kesini makin stress gue.
Suasana di sini beda banget sama di Jakarta tapi yang sama cuma panasnya yang terik waktu siang. Disini wisata kuliner nya bermacam macam tapi kebanyakan makanan disini rasanya manis. Masakan padang aja sambelnya rada manis. Gue belum ada sebulan disini jadi belum tau banyak tentang Purwokerto. Dulu waktu masih bocah sering banget ngelewatin Purwokerto sewaktu pengen ke Jogja. Sekarang gue menuntut ilmu di kota kelahiran nenek gue. Kebetulan disini banyak saudara dari nenek gue. Selama menuntut ilmu di kota orang gue ngekos di belakang kampus. Persis dibelakang kampus, padahal ngga ada 5 menit buat sampai di kampus tapi tetep aja telat masuk kelas.
Masing-masing orang punya latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. Rata-rata gue kenal semua penghuni kosan. Gue seneng kenal mereka tapi gatau mereka seneng ngga kenal sama gue. Gue jadi makin belajar menghargai dan saling mengerti walau dari daerah yang berbeda-beda. Tapi kalau udah ngomong dengan orang yang sama dari daerah yang sama. Mereka pasti ngomong dengan bahasa mereka sendiri. Dari Jawa ngomong pake bahasa jawa dan dari sunda ngomong pake bahasa sunda. Gue yang dari Jakarta yang cuma menguasai satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia cuma bisa diam seribu bahasa tapi kalau bahasa jawa gue masih bisa ngerti dikit dikit lah. Bahasa sunda yang pusing. Kalau mereka ketawa paling gue juga cuma bisa ketawa, padahal ngga tau ngetawain apaan.
So far mereka baik dan asik. Dikosan sini ada 3 orang yang satu jurusan sama gue tapi ada 2 orang yang sekelas sama gue. Dari 2 orang itu mereka baik, ada yang rajin absenin gue waktu gue ngga bisa dateng. Gimana ngga baik coba. Kebanyakan kosan disini dari Fakultas Peternakan. Ada 3 orang di angkatan 2011 dan ada beberapa juga dari senior. Setiap jumat malem atau malem sabtu sebagian penghuni kosan yang rumahnya deket udah pasti pulang. Ada yang dari Cilacap, Purbalingga, Wangon, Tegal, Purworejo, Banjar, Ciamis. Rata-rata yang deket pasti pulang. Gue yang dari Jakarta cuma bisa jaga kosan tok. Yang dari Medan juga cuma bisa anteng di kosan. Kebetulan yang dari Jakarta ada 2 orang. Malem sabtu ngga begitu sepi, yang parah pas malem minggu. Emang bener-bener udah kaya kuburan. Orang jauh doang yang masih bertahan. Ini hanya sepenggal pengalaman gue selama gue berada di sini. Untuk 4 tahun kedepan semoga semua yang masuk sama-sama akan berhasil sama-sama juga. Tuhan memberkati
Senin, 06 Juni 2011
Tanpa Judul
Salam sejahtera. Selamat pagi, selamat siang atau selamat malam. Setelah beberapa hari ngga nulis di blog badan gue serasa panas, hati bergelora, mata kunang-kunang, alis cenat-cenut, makan tak bergairah, tidur tak bersemangat, bangun doang yang lama. Gue nulis blog ini masih dalam keadaan setengah sadar, mata masih kebi, iler dimana-mana, belek yang masih nempel di tempatnya. Jadi maklumin aja kalo bahasa gue agak sedikit ngga karuan.
Gue sebenernya ngga mau nulis apa-apa di blog, karena pikiran gue lagi kacau akhir-akhir ini tapi untuk melepas kangen sekaligus menjaga eksistensi gue juga. Sebenermya gue muak dengan kehidupan yang seperti ini. Berada satu rumah dengan manusia paling annoying se-asia tenggara, ditambah dengan manusia paling lama berkicau se-asia tenggara. Gue bukan mengeluh atau menyerah dengan keadaan yang ada tapi setiap manusia pasti mengeluh akan apa yang tak mereka kehendaki. Tuhan mempunyai berbagai cara untuk membuat manusia mengeluh dan meminta ampun kepada-Nya. Agar manusia terbebas dari cobaan yang membuatnya mengeluh dan dalam kehidupan bahagianya manusia tak lagi meminta ampun kepada-Nya tapi bersyukur kepada-Nya.
Dalam situasi ini gue yang terus menerus mengeluh meminta ampun kepada Tuhan agar suatu hari nanti gue di beri cobaan yang lebih besar bukan kebahagiaan yang lebih banyak. Gue sadar kalo semakin lama gue semakin menderita akan lebih indah kalo gue menderita di atas penderitaan gue sendiri bukan di atas penderitaan manusia lain.
Tapi Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk kita para manusia yang terkadang lupa bagaimana Tuhan sudah bersusah payah memberi kita kehidupan, memberi kita kebahagiaan. Kita cukup hanya berdoa dan memuliakan nama-Nya, apa susahnya? Tapi kita manusia memang lupa bagaimana caranya. Lebih baik pergi ke pusat perbelanjaan atau ke tempat yang bertujuan untuk have fun daripada ke tempat dimana seharusnya kita memuliakan nama-Nya. Kita rela menghabiskan berjam-jam waktu dengan bersenang-senang dengan teman-teman tapi kita mungkin tak rela bila hanya menghabiskan waktu 1-2 jam untuk memuliakan dan berdoa kepada-Nya.
Dalam beberapa hari ini gue lupa akan Dia. Dia yang sudah memberi kehidupan. Bahkan kehidupan yang layak. Mungkin gue merasa ngga adil dengan cara kerja Tuhan ke gue. Gue ngga marah dengan apa yang Tuhan lakukan karena itu pasti sudah di gariskan oleh-Nya. Gue cuma bisa menjalankan kehidupan dengan apa yang Tuhan inginkan. Dengan hidup dalam kasih setia-Nya. Sekian dari gue. Tuhan memberkati.
Jumat, 29 April 2011
Cintaku selisih dua rumah
akhirnya tiba saatnya dimana gue bisa nge post tentang lika liku kehidupan cinta gue. sebenernya ini cuma segelintir kisah dari kehidupan cinta gue. oke kita mulai.
gue mencintai seorang wanita biasa dan cinta gue ke dia pun biasa. tapi menurut gue, gue mencintai orang yang luar biasa. seorang wanita yang berulang kali nyakitin hati gue dan seorang wanita yang dengan gampangnya merobek robek hati seorang pria, walaupun dia se 'afgan' dan se 'rossa' itu gue tetep bertahan dengan perasaan gue meskipun endingnya teramat sangat sakit.
gue berkali kali menyatakan cinta dan dia berkali kali juga menolaknya. di mata gue dia seperti malaikat tanpa sayap, bidadari tanpa selendang dan putri tanpa mahkota tapi mungkin gue di mata dia bagai sampah tanpa tempatnya, setan tanpa tanduknya dan pengemis tanpa tongkatnya.
gue berusaha mengalah pada wanita yang gue sayangin. gue rela maki maki diri gue sendiri. menyalahkan diri gue yang sebenernya... (emang salah gue sih). gue memang salah tapi dia ngga sepenuhnya bener juga.
gue berusaha menjadi apa yang dia mau tapi gue melihat ada perbedaan yang mencolok antara dia sama orang lain dan dia sama gue. perbedaan jelas terlihat diantara gue sama dia tapi dia menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan.
berkali kali gue disakitin dan berkali kali pula gue mensia-siakan hidup gue. betapa bodohnya gue terus mencintai dia yang tidak akan pernah untuk mencintai gue. dia membenci gue dengan tanpa alasan dan dia membuang gue juga tanpa alasan.
untuk sekarang ini buat apa terus menatap ke belakang bila bisa melangkah ke depan. dunia ngga bakal berakhir tanpa ada dia. kau pikir kaulah segalanya yang seenak jidat berkata 'maaf'. tapi apapun yang terjadi gue siap untuk selalu bisa ada di sampingnya dan gue yakin suatu hari nanti dia menyadari arti dari ketulusan hati ini.
jatuh cinta itu memang indah dan jatuh akibat cinta itu sama indahnya. jatuh cinta bisa membuat tahi menjadi rasa coklat tapi sebaliknya sakit hati bisa membuat rasa coklat menjadi rasa tahi. tidak ada yang bisa menebak kekuatan cinta itu seperti apa. sekian dari saya. oh, pesan terakhir untuk wanita yang gue anggap paling sempurna dan paling indah. untuk dia yang ada disana.
gue mencintai seorang wanita biasa dan cinta gue ke dia pun biasa. tapi menurut gue, gue mencintai orang yang luar biasa. seorang wanita yang berulang kali nyakitin hati gue dan seorang wanita yang dengan gampangnya merobek robek hati seorang pria, walaupun dia se 'afgan' dan se 'rossa' itu gue tetep bertahan dengan perasaan gue meskipun endingnya teramat sangat sakit.
gue berkali kali menyatakan cinta dan dia berkali kali juga menolaknya. di mata gue dia seperti malaikat tanpa sayap, bidadari tanpa selendang dan putri tanpa mahkota tapi mungkin gue di mata dia bagai sampah tanpa tempatnya, setan tanpa tanduknya dan pengemis tanpa tongkatnya.
gue berusaha mengalah pada wanita yang gue sayangin. gue rela maki maki diri gue sendiri. menyalahkan diri gue yang sebenernya... (emang salah gue sih). gue memang salah tapi dia ngga sepenuhnya bener juga.
gue berusaha menjadi apa yang dia mau tapi gue melihat ada perbedaan yang mencolok antara dia sama orang lain dan dia sama gue. perbedaan jelas terlihat diantara gue sama dia tapi dia menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan.
berkali kali gue disakitin dan berkali kali pula gue mensia-siakan hidup gue. betapa bodohnya gue terus mencintai dia yang tidak akan pernah untuk mencintai gue. dia membenci gue dengan tanpa alasan dan dia membuang gue juga tanpa alasan.
untuk sekarang ini buat apa terus menatap ke belakang bila bisa melangkah ke depan. dunia ngga bakal berakhir tanpa ada dia. kau pikir kaulah segalanya yang seenak jidat berkata 'maaf'. tapi apapun yang terjadi gue siap untuk selalu bisa ada di sampingnya dan gue yakin suatu hari nanti dia menyadari arti dari ketulusan hati ini.
jatuh cinta itu memang indah dan jatuh akibat cinta itu sama indahnya. jatuh cinta bisa membuat tahi menjadi rasa coklat tapi sebaliknya sakit hati bisa membuat rasa coklat menjadi rasa tahi. tidak ada yang bisa menebak kekuatan cinta itu seperti apa. sekian dari saya. oh, pesan terakhir untuk wanita yang gue anggap paling sempurna dan paling indah. untuk dia yang ada disana.
Langganan:
Postingan (Atom)
